Harga Gas Elpiji 3 kg di Batang Cenaku, Inhu Melambung Tinggi

Foto : salah seorang warga menenteng nenteng tabung elpiji kosong di warung kopi

INHU - Jika ditanya pada pemilik pangkalan maka sudah barang tentu jawabnya sudah diatur sesuai anjuran pemerintah. Pihak pangkalan juga akan menjawab entah mengapa banyak penjual liar sehingga harga barang melambung tanpa aturan. Jika ditanya darimana mereka memperoleh barang, acap kali pangkalan setempat mengaku bingung sambil menggeleng gelengkan kepala.

Demikianlah polemik terkait masalah mahal dan langkanya gas LPG (Elpiji) di wilayah kecamatan Batang Cenaku, kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) saat ini. Gas Elpiji langka hingga banyak masyarakat merutuk tak karuan. Jika pun ada, harganya sudah mencapai 35 ribu/tabung Elpiji 3 kg, bahkan ada yang mencapai 40 ribu rupiah.

Iyan (45) warga desa Aur Cina saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2020) mengaku stres mencari gas elpiji. Iyan mengaku memiliki kartu pemberian pangkalan terdekat namun hari itu tak berguna sama sekali sebab barang di pangkalan kosong. Anehnya di warung warung justru barang itu ada namun harganya sudah 35 ribu rupiah per tabung gas elpiji 3 kg, "heran di warung-warung ada tapi mahal harganya, tapi saya heran darimana mereka peroleh, sedangkan pangkalan saja kosong," tukasnya.

Rudolf (48) warga desa Bukit Lipai juga mengatakan hal senada. Karena pusing disuruh istri cari gas tak dapat akhirnya nongkrong di warung kopi desa Aur Cina. Menurut Rudolf, sistem pendistribusian gas elpiji diakui bagus, dengan menggunakan kartu khusus, tapi kenapa dirinya selalu membeli barang dengan harga mahal. Apakah tidak ada kartu ? " tidak " bantahnya tegas.

Rudolf mengatakan untuk apa subsidi ini ada tetapi tidak membawa maslahat buat masyarakat kecil. Rudolf berandai andai jika subsidi dihapuskan itu akan lebih baik buat masyarakat banyak. Bahkan Rudolf mengatakan keberadaan warung-warung mahal itu berjalan liar tanpa kendali. Rudolf juga tak menyalahkan pangkalan setempat. Namun ia menyebut bahwa banyak warung liar memperoleh barang disembarang tempat, terkadang ambil barang dari luar. Kendati demikian, Rudolf mengatakan peranan pangkalan setempat juga harus andil dalam mengawasi produsen ilegal yang dirumorkan berkeliaran keluar masuk.

Terkait kartu khusus buat masyarakat untuk memperoleh jatah elpiji 3 kg juga dihimbaukan oleh masyarakat. Menurut banyaknya sumber terpercaya mengatakan masih banyak berteletek warga miskin yang tak memperoleh kartu itu. Mereka pun menganggap mungkin masalah ini belum selesai dan perlu kembali dibahas oleh pemetintah. 

Beberapa pihak pangkalan setempat dikonfirmasi juga terkesan enggan memberi penjelasan. Sebab sebagian pihak mengaku tidak tahu penyebab gas elpiji langka dan darimana rumus harga tinggi diperoleh para pengecer kecil saat barang subsidi itu langka, seperti halnya penyampaian salah seorang pemilik pangkalan elpiji yang ada di desa Kuala Gading, Imron.(by)





[Ikuti RiauKarya.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar