BAGANSIAPIAPI - Masyarakat dan keluarga besar sahabat Muhammad Syah Padri (MSP) mengadakan do'a bersama dan syukuran silaturahmi bersama Gubernur Provinsi Riau, Abdul Wahid, Kamis (12/6/2025) di kediaman Anggota DPRD Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) MSP di Bagansiapiapi.
Pada kesempatan itu hadir para alim, ulama, tuan guru dan khalifah, serta tokoh masyarakat Rohil khususnya Bagansiapiapi, teristimewa buat tuan rumah Muhammad Syah Padri beserta keluarga besar.
MSP menjelaskan, bahwa syukuran yang diadakan itu karena kemarin masyarakat dan keluarga sahabat MSP telah bersama-sama berjuang mendudukkan satu Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di DPRD Rohil.
Kemudian lanjut MSP, masyarakat dan sahabat MSP juga bersama-sama berjuang memenangkan Abdul Wahid menjadi Gubernur Riau dari bermarwah di Kabupaten Rohil.
"Jadi ini bentuk syukur kita mengundang masyarakat dan tim dengan hajat dan niat menyembelih lembu satu ekor, dan hari ini Alhamdulillah Pak Gubernur hadir di Rohil dikediaman kami sebagai bentuk rasa syukur dan menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat yang selama ini telah membantu memperjuangkan sehingga kami menang di Rohil dan Pak Abdul Wahid sebagai Gubernur Riau," ucapnya.
MSP juga menyebutkan, bahwa Gubernur Riau juga menyampaikan perhatian terhadap jalan-jalan di Rohil untuk diperbaiki.
Pada saat itu, Gubernur Riau turut didampingi oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah (Plh Sekda) Provinsi Riau, Muhammad Job Kurniawan beserta istri yang merupakan asli orang Rohil dan mantan Sekda Rohil.
"Sayangnya beliau (M Job Kurniawan) tidak mendaftar jadi Sekda Riau. Kalau tidak, bisa kita angkat jadi Sekda Provinsi," gurau Gubernur Riau disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.
Gubernur Riau mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas sambutan luar biasa saat hadir di kediaman Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rohil, Muhammad Syah Padri.
Setelah jadi Gubernur, sebut Wahid, dia melakukan kunjungan ke Rohil paling banyak yaitu sebanyak empat kali melebihi kunjungannya ke Indragiri Hilir yang merupakan daerah asalnya.
Kunjungan ke Tembilahan itu, terusnya, baru satu kali saja dilakukannya yaitu pada bulan puasa kemarin saat Safari Ramadhan.
"Tapi sayangnya Pak Job tidak mendaftar menjadi Sekda," ujar Wahid sambil bergurau.
Sebagai Gubernur, Abdul Wahid menegaskan, bahwa dirinya tidak ada menyuruh satu pun untuk mendaftar menjadi Sekda. Dia mempersilahkan bagi siapa saja yang mau mendaftar.
"Tidak ada saya suruh, dan tidak ada saya minta untuk mendaftar. Tapi Pak Job kayaknya dia belum bersedia jadi Sekda, makanya saya tunjuk aja dulu Plh Sekda," ungkap Wahid.
Abdul Wahid merasa senang berada di Rohil, karena masyarakatnya luar biasa. Secara karakter, memang tinggal di pinggir pantai, di pinggir sungai ini, tentu orang pesisir tak takut untuk berlayar apalagi mengarungi ombak dan badai itu sudah biasa.
Oleh karena itu, sebagi Gubernur Riau, Abdul Wahid mengibaratkan dirinya adalah nahkoda lancang kuning. Seperti di lagu lancang kuning itu, kalau nahkoda kurang lah pandai, maka alamat lah kapal akan tenggelam. Oleh karena itu, Abdul Wahid tidak mau membuat Riau ini menjadi nahkoda yang tidak pandai, ia insyaallah akan berlayar diwaktu malam membawa Riau ini menjadi lebih baik.
"Saya terkejut tadi sampai disini rupanya ditepuk tepung tawar dan dikasi upah-upah. Saya mengucapkan terimakasih karena ditepuk tepung tawar. Tepuk tepung tawar ini dalam bahasa Melayu selalu do'a mendo'akan, menghilang tolak bala, menghilangkan segala rintangan, pelurus jalan dan doa harapan," pungkasnya.
Gubernur Riau juga mohon dido'akan, selama memimpin Riau selamat hendaknya sampai akhirnya, dan dia ingin selama memimpin, Riau menjadi tambah maju. Oleh karena itu, dia sudah meninjau beberapa ruas jalan, dia ingin membangun mulai dari Kecamatan Kubu, Panipahan sampai daerah Sinaboi menuju Dumai.
"Insyaallah nanti jalannya saya melihat dengan sebenar-benarnya, bahwa jalan ini tidak bisa di single years atau satu tahun saja, tapi harus multi years artinya bertahun-tahun hanya satu kontrak saja, sehingga pekerjaannya lebih panjang, lebih bisa ada waktu untuk memperbaiki jalan ini, sehingga uang yang dianggarkan tidak sia-sia," terangnya.
Gubernur juga sudah menanyakan kepada Plh Sekda dan PU, bahwa selama ini yang dianggarkan sebesar Rp 20 Miliar yang terserap hanya Rp 10 Miliar, dan yang dianggarkan Rp 40 Miliar namun terserap hanya Rp 5 Miliar, akhirnya pekerjaan itu tidak jadi.
Oleh karena itu, Gubernur Riau akan menata permasalahan infrastruktur ini kedepannya, karena ini yang penting bagi masyarakat termasuk sektor-sektor lainnya.
Kalau infrastruktur ini bagus, sambungnya, tentu arus barang dan orang akan lancar, maka persoalan itu akan diperbaiki. Apalagi daerah pesisir, material tidak ada ditempat dan harus didatangkan dari luar, termasuk juga medannya sangat berat, karena kalau tidak memakai multi years, maka tidak akan pernah selesai masalah jalan ini.
"Sebenarnya saya tadi juga kawatir karena sekarang lagi defisit, takut banyak janji yang tak ditepati. Tetapi insyaallah saya bekerja semaksimal mungkin bagaimana lintas pesisir mulai dari Kubu sampai ke Indragiri Hilir tersambung jalannya," ujar Wahid.
Sehingga, lanjutnya, tidak lagi kemiskinan itu hadir di daerah pesisir karena tidak adanya infrastruktur. Mudah-mudahan dengan infrastruktur terbangun, kemiskinan di pesisir ini bisa diatasi dan dikurangi sehingga masyarakat menjadi sejahtera. (rif)

