ROHUL - Gula aren, salah satu pemanis alami khas Indonesia, masih diproduksi secara tradisional oleh sebagian masyarakat di Desa Rambah Tengah Barat (RTB), Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Di desa ini, proses penyadapan dan pemasakan air nira pohon enau juga menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian warga.
Salah seorang penyadap yang telah bertahun-tahun menggeluti profesi ini Rifai Nst menjelaskan proses pembuatan gula aren dengan rinci. Proses diawali dengan menyiapkan wadah berupa bambu atau jerigen sebagai tempat penampungan air nira yang disadap dari bunga wanita pohon aren. Penyadapan dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore, untuk menjaga kesegaran dan kuantitas air nira.
Air nira segar yang berhasil dikumpulkan kemudian dimasak dalam kuali besar yang terbuat dari besi. Proses pemasakan ini memakan waktu beberapa jam, tergantung banyaknya air nira serta kuatnya api yang digunakan.
"Selama dimasak, cairan nira terus diaduk agar tidak gosong dan mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan. Cairan yang semula bening perlahan akan berubah menjadi cokelat kemerahan," ujarnya kepada awak media ini. Rabu (23/4/2025).
Setelah kental dan berwarna cokelat tua, nira panas tersebut segera dituangkan ke dalam cetakan yang biasanya terbuat dari kayu yang di bentuk. Bentuk cetakan berbentuk segi empat memajang dan menghasilkan gula aren dengan berat setengah kilogram per cetakan.
Dari sepuluh liter air nira, rata-rata hanya dihasilkan sekitar lima hingga enam kilogram gula, karena sebagian besar air menguap selama proses pemasakan.
Gula aren tidak hanya terkenal karena rasanya yang khas, tetapi juga karena manfaat kesehatannya. Dibandingkan pemanis buatan, gula aren mengandung berbagai mineral alami dan indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga lebih ramah bagi tubuh.
Produk ini biasa digunakan dalam aneka kuliner tradisional seperti kolak, bubur sumsum, hingga jajanan pasar. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat lewat minuman kekinian seperti kopi gula aren.
Meski proses produksinya masih sangat tradisional dan memerlukan tenaga ekstra, para penyadap di Desa Rambah Tengah Barat tetap menjaga kualitas dan keaslian gula aren buatan mereka. Mereka percaya, metode warisan leluhur ini adalah kunci utama yang menjaga cita rasa dan nilai dari produk mereka.
Di tengah gempuran berbagai produk modern, gula aren dari Desa Rambah Tengah Barat tetap bertahan dan menjadi pilihan masyarakat yang menghargai rasa alami dan kesehatan.
Dengan dedikasi tinggi dan kecintaan pada tradisi, para pembuat gula aren ini tak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal di tengah zaman yang terus berubah.***

