Hari Temu Tani, WEI, Bersama Para Petani Sawit Se-kabupaten Inhu Adakan Diskusi

Hari Temu Tani, WEI, Bersama Para Petani Sawit Se-kabupaten Inhu Adakan Diskusi

INHU - Kegiatan Farm Field Day (Hari Temu Tani) merupakan salah satu metode pemberdayaan petani melalui pertemuan antar petani, peneliti, dan penyuluh untuk saling tukar menukar informasi tentang teknologi pertanian yang diterapkan dan mendapatkan umpan balik dari petani mengenai masalah dan hambatan yang dihadapi dalam berusaha tani.

Kegiatan tersebut digagas oleh WEI (Widya Erti Indonesia), pada Rabu, 18 Desember 2024, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Titian Resak, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), mulai pukul 09.30 hingga pukul 12.30 Wib.

Sekitar seratusan petani sawit dari berbagai Asosiasi Petani Kelapa Sawit yang ada di kabupaten Indragiri Hulu mengikuti kegiatan tersebut dan mengadakan diskusi dengan Widya Erti Indonesia (WEI) pada hari Rabu 18 Desember 2024 untuk memperkuat budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan.

Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari Hari Temu Tani di Desa Titian Resak, Kecamatan Seberida, sebuah pertemuan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani sesuai dengan standar ISPO dan RSPO melalui program sekolah lapang untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Kadis Perkebunan Provinsi Riau dalam hal ini diwakili Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Defris Atmaja, Program Manager WEI, Willy Hasbi, Anggota DPRD Inhu Komisi ll, Yasman dan Dadik, Camat Seberida Agus Rianto SE MH, Kapolsek Seberida, AKP Yudha Efiar SH, Danramil 03/Seberida, Kapten Inf. TB Sitepu, Kepala Desa Titian Resak, Sumanto ST, SLKS serta para tamu undangan lainnya.

Dalam paparannya Willy Hasbi selaku Program Manager Widya Erti Indonesia (WEI), nemperkenalkan, Widya Erti Indonesia (WEI), adalah yayasan yang didedikasikan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat pedesaan dan marginal melalui pembangunan pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Kegiatan Hari Temu Tani ini dilatarbelakangi oleh kegiatan Sekolah Lapangan Kelapa Sawit (SLKS) yang telah dan sedang kami selenggarakan guna memberikan kesempatan seluas-luasnaya kepada petani sawit swadaya, belajar tentang Praktik Pertanian Terbaik (PTT/GAP) dan Principle dan Criteria (P&C) menuju sertifikasi ISPO dan RSPO.

Hari Temu Tani diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta SLKS untuk menyampaikan hasil belajar kepada stakeholders terkait, mempromosikan program dan mengajak petani untuk menerapkan PTT/GAP dalam rangka memperbaiki teknik budidaya dan meningkatkan produksi, menggalang peran dan dukungan dari stakeholder agar rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan oleh alumni SLKS bisa berjalan denganbaik.

Ia meminta para lulusan SLKS untuk terus mendorong rekan-rekan mereka sesama petani untuk berpartisipasi dalam program ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan standar pertanian.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran, Defris Atmaja memberikan apresiasi serta memuji Widya Erti Indonesia dan Unilever atas keberhasilan mereka. "Inisiatif seperti ini sangat penting untuk pengembangan sektor perkebunan di wilayah kami, khususnya di provinsi Riau," ungkapnya.

Defris berharap program ini dapat terus berkolaborasi dengan Widya Erti Indonesia dan para pemangku kepentingan lainnya. "Kami percaya bahwa melalui kerja sama yang erat, kita dapat mencapai dampak yang lebih besar dari budidaya kelapa sawit bagi petani dan lingkungan," pungkasnya.

Ia juga menyinggung perihal harga kelapa sawit di Riau yang saat ini terus mengalami kenaikan," Kami juga akan terus mengupdate setiap minggunya perihal harga kelapa sawit yang saat ini terus mengalami kenaikan, semoga hal ini membawa dampak yang baik bagi para petani sawit dan dapat juga dirasakan oleh para petani sawit swadaya," harapnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Inhu dari Komisi ll, Yasman menyinggung perihal rendahnya Dana Bagi Hasil (DBH) buah sawit yang diterima oleh Kabupaten Indragiri Hulu.

Yasman menyebutkan ada beberapa faktor penyebab rendahnya DBH sawit yang diterima oleh Kabupaten Indragiri Hulu. Salahsatunya adalah, banyaknya hasil sawit dari Inhu ini yang di jual ke luar Inhu, salah satu contoh banyak hasil sawit di jual ke PKS yang ada di Provinsi Jambi.

" Hal ini tentunya sangat merugikan kita masyarakat Inhu, sementara tidak ada pemasukan sama sekali dari pihak perusahaan yang membeli hasil sawit dari Inhu. Nah, hal semacam inilah yang akan kita perjuangkan untuk mencari solusinya melalui diskusi ini, bagaimana caranya agar supaya hasil sawit dari Inhu ini tidak dijual keluar, walaupun dijual keluar Inhu, kita harus mendapatkan fee nya. Jadi kita mohon pada pihak terkait dalam hal ini Disbun Provinsi Riau untuk dapat mencari solusinya," ujar Yasman yang juga Ketua Apkasindo untuk Kecamatan Batang Gansal ini.

Acara ini juga merupakan forum yang strategis bagi para petani untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka kepada pemerintah. Para petani berharap pemerintah dan instansi terkait dapat menyediakan bibit berkualitas tinggi secara gratis atau dengan harga yang terjangkau dan memfasilitasi proses legalisasi lahan.

Harapan-harapan ini mencerminkan keinginan kuat para petani untuk meningkatkan produktivitas dengan tetap mematuhi standar lingkungan dan sosial yang bertanggung jawab.

Acara ini juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, membangun dialog konstruktif dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan sektor kelapa sawit dan menciptakan komunitas petani yang saling mendukung satu sama lain.

Kegiatan dilanjutkan dengan Penandatanganan Fakta Integritas dan Brief Policy (Rancangan Kebijakan) serta Penyerahan sertifikat SLKS secara simbolis serta ditutup dengan foto bersama.(sur)

Berita Lainnya

Index