Keseruan Sawer Pengantin Tradisi Sunda Yang Masih Dilestarikan

Keseruan Sawer Pengantin Tradisi Sunda Yang Masih Dilestarikan

INHU - Upacara sawer panganten adalah salah satu tradisi yang tak terlupakan dalam pernikahan adat Sunda. Dalam budaya Sunda, pernikahan tidak hanya merupakan ikatan antara dua individu, tetapi juga antara dua keluarga. Upacara ini menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan antara mempelai dan keluarga mereka.

Kata "nyawer" berasal dari kata "awer", yang berarti seember air yang dapat diuwar-awur (diciprat-cipratkan atau ditebar-tebarkan). Pendapat lain menyebutkan, ditulis dalam buku Bagbagan Puisi Sawer Sunda, bahwa istilah "nyaweran" berasal dari kata "penyaweran", yang berarti tempat yang sering terkena air hujan yang jatuh dari genteng. Dengan demikian, tempat yang dimaksud untuk melakukan nyawer adalah di halaman rumah, dan benda-benda sawerannya adalah cipratan air.

Tradisi ini melibatkan pemberian benda yang ditebarkan oleh mempelai kepada tamu undangan. Kunyit, beras putih, berbagai bunga, sirih, permen, uang logam/kertas, dan beras kuning yang sudah direndam dalam air kunyit adalah bahan-bahan istimewa yang biasanya dibagikan selama acara nyawer.

Ketika pasangan pengantin duduk berdampingan sambil menunggu tamu, anak-anak, bahkan orang dewasa, langsung berkumpul di belakang atau depan pasangan pengantin untuk mengikuti dan memungut uang logam dan kertas, yang disawerkan oleh kedua orang tua dan sanak saudara mempelai dan dipandu oleh juru sawer.

Meskipun zaman terus berubah, tradisi sawer panganten tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam pernikahan adat Sunda. Nilai-nilai tradisional ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Sunda, bahkan sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangan yang ingin mengadakan pernikahan dengan nuansa tradisional.

Seperti halnya acara sawer panganten yang dilaksanakan di kediaman Bapak Tuso dan Ibu Nida Rosifah Desa Titian Resak Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu, dalam acara resepsi pernikahan putri sulungnya Aviva Nadia SE MM yang bersanding dengan Ridho Firmansyah SH MH Putra dari Bapak Mawardi dan Ibu Nurhayati.

Kegiatan sawer panganten tersebut berlangsung pada Sabtu, 18 Mei 2024 sekitar pukul 11.00 wib setelah rangkaian acara akad nikah.

Terpantau dilokasi pesta keseruan pada saat sawer pengantin dilaksanakan, mereka yang hadir baik anak-anak, tua, muda berkumpul mengelilingi sang mempelai untuk berebut terutama memungut uang yang ditaburkan.

Acara sawer panganten tersebut dipimpin oleh salah satu tokoh seni didaerah itu yaitu Ibu Icoh. Beliau memberikan wejangan khususnya untuk kedua mempelai dengan bahasa Sunda yang dilantunkan seperti memakai lirik lagu atau pantun.

Terpantau kegiatan sakral sawer pengantin itu dihadiri juga oleh anggota DPRD Provinsi Riau Ade Agus Hartanto M.Si yang didampingi oleh ketua Bawaslu Provinsi Riau.(sur)
 

Berita Lainnya

Index