Musim Utara, Malok Saguk Menjadi Pekerjaan Rutin Masyarakat Natuna

Musim Utara, Malok Saguk Menjadi Pekerjaan Rutin Masyarakat Natuna
Ahmadi saat dijumpai ditempat kerjanya Kamis 18/1/2024 (foto: zani)

Natuna- Kabupaten Natuna, banyak memiliki makanan tradisional yang telah dikonsumsi masyarakat sejak dahulu.

Menurut sejarah, sagu menjadi makanan pokok  masyarakat Natuna pada musim utara. Sebab di musim utara cuaca diperairan Natuna sangatlah extrim, sehingga para petani dan nelayan tidak bisa melakukan aktipitasa seperti biasanya.

Singkat cerita,  sampai saat ini sagu merupakan  bahan baku yang bisa diolah menjadi berbagai macam makanan.

Salah seorang  pengolah sagu asal warga Desa Batu Gajah, Kecamatan Bunguran Timur, Ahmadi (60), membenarkan hal tersebut. Dikatakannya bermacam aneka ragam makanan bisa dibuat dengan bahan baku dari sagu.

"Sagu bisa dibuat menjadi sagu butir, tabel mando, kernas, linot dan masih banyak lagi lainnya," kata Ahmadi, saat dijumpai di tempat kerjanya, Kamis (18/1/2024).

Dirinya juga membenarkan bahwa  pada musim utara dimana  musim tersebut masyarakat Natuna, sangat kesulitan untuk mendapatkan pasokan bahan makanan.

"Karena kapal tak bisa berlayar. Itu dulu," tambahnya pula.

Ahmadi melanjutkan, jadi orang-orang dulu  hanya  bergantung pada tanaman sagu dan kebetulan pohon sagu memang banyak tumbuh di Natuna. 

Ketika ditanyai seperti apa cara pengolahan pohon sagu hingga bisa mnejadi sagu butir?, Madi menjelaskannya secara singkat.

Pertama sekali kata lelaki beranak lima itu, pohon sagu  yang sudah menua ditebang, lalu dipotong-potong dan dikupas kulitnya. Kemudian diparut dan diperas seperti memeras santan lalu diendapkan.

Jika sudah diendapkan sampai satu malam sambung Madi, ke keesokan harinya  akan terlihat ampas berwarna putih  dan itulah sagu yang masih basah.

"Lalu di ayak dengan alat tikar anyaman hingga menjadi butiran, nah butiran itu yang di gonseng  hingga terasa renyah (rengup)," kata Ahmadi, mengakhiri.

Sebagai informasi tambahan pekerja sagu biasanya berjumlah lebih kurang 4 atau 5 orang bahkan lebih. Lazimnya masyarakat Natuna menyebut proses pembuatan sagu ini dengan menyebut kerja malok saguk.(RK/Zani)

#RiauKarya.com

Index

Berita Lainnya

Index