Nasabah Diduga seorang Polisi

Seorang Teller Bank BRI Unit Peranap Ajak Duel Nasabah

BRI cabang Peranap

INHU - Tak bisa disangsikan lagi, santunnya para petugas perbankan dalam melayani nasabah. Bahkan, saking santunnya mereka, banyak nasabah menilai etika para petugas perbankan itu hampir menyamai kesantunan Pramugari. 

Namun siapa sangka di Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Peranap kabupaten Indragiri Hulu  (Inhu) yang satu ini. Bahkan para nasabah lainnya dibuat tercengang ketika melihat tingkah polah salah seorang tellernya yang berinisial AN. AN tiba tiba mencak mencak dan menantang duel salah seorang nasabah yang datang hendak mentransfer sejumlah uang, Jumat (16/9/2021) sekira pukul 08.30 WIB.

Apa gerangan motif AN marah marah pada seorang nasabah itu? Demikian puluhan pertanyaan ada di benak para nasabah yang antrean pagi itu. Sang nasabah, UN (33) saat dikonfirmasi awak media ini membenarkan kejadian tak lazim dan menimpa padanya. UN diduga kuat ternyata seorang polisi.

Menurut UN, kejadian itu diawali ketika ia hendak mentransfer sejumlah uang sebesar 96 juta rupiah. Begitu uang diserahkan pada AN , tiba tiba AN meminta UN untuk menata uangnya yang dianggap tak tersusun rapi. Kemudian UN pun berkomentar jika biasanya teller akan menghitung saja susunan uang yang diserahkan nasabah, walaupun susunannya belum rapi.

Menurut penuturan UN pada awak media ini, jika si Teller memintanya untuk menyusun ulang sejumlah uang yang hendak ditransfer itu. Padahal, UN sudah merasa telah menyusunnya, yakni dengan cara memisahkan uang ratusan merah dengan uang lima puluhan biru, yang penting tidak campur antara kedua warna uang tersebut.

"Biasanya teller menerima saja tuh walaupun dianggap belum rapi, yang penting kan merah dengan merah, biru dengan biru " ujar UN sambil melangkah ke belakang ruangan teller untuk menyusun rapi uangnya lagi.

"Memang uang itu aku susun merah sama merah biru sama biru, tapi dalam susunan ada lipatan uang sebagai penanda jumlah per satu juta " tuturnya lagi.

Baru saja duduk dan hendak menyusun uangnya, tiba tiba si teller, AN menghampirinya sambil berkata bernada tidak enak kepadanya. Si Teller AN membentak dengan mengungkapkan perkataan bernada marah kepada UN, " abang maunya apa ?" tutur UN menirukan pertanyaan AN kepadanya.

UN pun menjawab jika ia mau menyusun duitnya. Kemudian UN balik bertanya denga balasan pertanyaan yang sama yakni ingin tahu niat teller menghampirinya, " Saya mau nyusun uang, nah kamu maunya apa ? " UN balik bertanya pada AN alias si teller BRI Cabang Peranap itu.

Mendengar jawaban UN , tiba tiba AN mengeluarkan kata kata caci maki kepada UN. Menurut UN, si teller BRI itu sungguh tidak bisa mencerminkan sikap sopan santun yang lazim dilakukan oleh teller teller BRI pada umumnya. AN mencaci maki dengan kata kata kotor.

" mau apa, jangan kayak gitu gayamu An**ing kau, pan**k kau " bentak AN dengan garangnya kepada UN.

UN pun membalas perkataan kasar AN dengan mengatakan betapa kasar perlakuan teller BRI itu kepadanya padahal dari awal ia tak pernah ngomong kasar kepada si teller itu.

"Loh kok kamu kasar padaku bro padahal dari tadi aku tak pernah berkata kasar padamu," balas UN.

Setelah itu AN bergegas masuk ke ruang tellernya. Namun hanya sesaat, AN sudah kembali berada di hadapan UN sambil membawa suatu benda. Benda itu menyerupai sarung jari tangan yang terbuat dari besi. Orang juga menyebut benda itu sarung besi yang biasa dipergunakan preman jalanan dalam insiden tawuran. Ada juga orang orang kampung menyebut benda ditangan si teller itu dengan nama Cangke atau Cengke.

UN menyayangkan sikap si teller yang seharusnya penuh kesabaran dalam menghadapi nasabah justru ala preman yang ditunjukan. Walaupun hanya senjata tumpul tapi tetaplah itu benda yang dipergunakan untuk meninju dalam berkelahi.

UN khawatir, jika nasabah nasabah yang melihatnya akan trauma untuk datang ke BRI cabang Peranap. Sebab takut salah berbicara atau apa nanti mereka terkena Cengke !. UN juga menyangkan sikap si teller yang arogan nyaris prilaku ala preman jalanan dengan mencak mencak dan arogan melayani para nasabah yang datang, " adab seorang teller BRI tak menakutkan seperti itu, pimpinan BRI harus tau ini," ucapnya.

Untung saja pada detik itu yakni bertepatan dengan gerakan si teller hendak menyerang UN, tiba tiba dengan sigap seorang scuritty mememeluk tubuh AN hingga teller yang lagi kalap itu tak bisa bergerak maju melampiaskan amarahnya pada AN.

"Untunglah ada satpam tiba tiba memeluk si teller itu hingga niat menyerang saya tak kesampaian. Tapi saya tak rela diperlakukan seperti itu. Saya berfikir bagaimana nanti nasabah nasabah di Peranap ini ketika berhadapan dengannya," tutur UN.

UN geram bukan main. Sebab , walau kasus itu berhasil dimediasi secara kekeluargaan namun si teller tetap saja congkak. Bayangkan , walau di depan mediasi AN masih juga menantang UN yang sebenarnya seorang polisi berpostur tubuh kecil, peramah serta agamis itu untuk duel. Barulah setelah AN tahu bahwa UN seorang polisi maka AN mau meminta maaf kepada UN.

"Sudah di muka mediasi aja dia masih menantang saya duel , barulah setelah dia tahu aku seorang polisi dia mau meminta maaf kepadaku," ujar UN sambil gelengkan kepala dan tangannya mengelus dada.

Pimpinan BRI Cabang Peranap, Ischandra saat di konfirmasi awak media ini melalui via seluler di akun medsosnya membenarkan kejadian itu. Kata Chandra, Sabtu (18/9) sekira pukul 08:46 WIB menyebut perkara itu sudah dimediasi dan keduabelah pihak menerima dengan lapang dada.

" Alhamdulillah proses mediasi kedua belah pihak berjalan koorporatif kemaren, dan keduanya berlapang dada menyelesaikan dengan jalan damai, dan Teller kita sudah meminta maaf kepada nasabah, dan disambut tangan terbuka oleh nasabah kita itu," kata Chandra.

Bahkan pimpinan Cabang BRI yang satu ini memuji nasabah yang dimaksud

"Mas UN nasabah kita itu, sangat saya sanjung budi pekertinya. Beliau seorang polisi sangat santun dan berjiwa islami, beliau malahan menyambut baik dengan tangan terbuka mediasi damai kemaren pak," kata Chandra lagi.

Ditanya terkait damai itu kembali UN membenarkan jika mediasi sudah selesai dengan damai. Namun menurut UN, damai secara hukum betul ia akui namun secara moral UN meminta agar pimpinan BRI bisa memberikan sanksi kepada AN.

"Secara hukum, ya saya menerima sebab merunut perubahan Undang undang yang ada kategori prilaku seperti yang AN lakukan tak layak masuk ranah pidana berat. Namun secara moral AN telah menunjukan watak premanisasi yang layak diberi sanksi, dia meminta maaf setelah tahu saya polisi, coba kalau saya bukan polisi tentu dia tak sudi meminta maaf," tukasnya.

UN menambahkan jika prilaku teller yang tak mencerminkan adab yang baik itu dibiarkan maka disanksikan BRI masa kini akan melayani nasabah dengan cara seperti yang AN lakukan, arogan dan terkesan seperti anak jalanan. Bahkan dengan sombongnya AN masih menantangnya meski sudah berada di ruang mediasi. Namun setelah tahu bahwa UN adalah seorang polisi, baru lah AN meminta maaf, " ini permintaan maaf yang tidak tulus karena melihat saya polisi. Bagaimana kalau nasabah itu hanya seorang pemulung ?," tutupnya. (bdy)






[Ikuti RiauKarya.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar