Fiksi and Opini

Beras Ini Tak Enak Ya Mak

Penulis

Oleh : BUDI

" KOK tak enak nasi ini dimakan ya Mak ," kata seorang bocah seusia Upin Ipin bernada protes pada ibunya. 

Nampak wajah si bocah merengut sembari tangannya memukul mukul piring beling dengan menggunakan sendok. Seorang ibu yang ditanya nampak tersenyum penuh kasih sayang pada si bocah, namun terlihat bola matanya berkaca kaca.

" ya sayang, itukan beras murah yang ibu dapat kemaren,"  balas ibunya seraya menoel dagu si bocah.

Dalam waktu yang hampir terpaut, terlihat seorang pria seusia Sopo Jarwo berjalan melintas disamping kedua insan ibu dan anak itu. Ditangannya menggenggam setangkai alat panen kelapa sawit (Dodos). Bajunya nampak basah oleh keringat. Sepertinya pria itu adalah ayah dari si bocah. Terdengar dari mulut si pria ungkapan bernada gerutu namun tidak begitu jelas.

Kendati demikian, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut si pria terdengar begitu jelas. Si pria mengatakan seolah menyalahkan istrinya terkait nasi celaka  yang dimakan oleh buah hatinya itu. Si pria menganggap istrinya tak cerdas dengan membeli beras murah tapi membuat anak semata wayangnya itu protes.

" biar aja dapat sekilo tapi anak kita senang dan bisa jadi gizi baik buat dia bu, ini kamu ambil beras murahan itu. Jangan kan anak kita, aku saja mau muntah menelannya,"  kata si pria kesal.

Si pria terus menggerutu tak habis habisnya. Si ayah satu anak itu menganggap dirinya banting tulang bekerja selama ini demi menafkahi anak dan istri dengan baik. Tapi ia merasa upayanya sia sia karena istrinya justru lebih memilih membeli beras murah tak berkualitas, layaknya umpan ayam ayam yang tak pernah belajar tentang kandungan vitamin dalam butiran beras, baik itu beras timbunan, stok lama ataupun ampas kapal.

" Ibu ku sayang,... Kalau mau ngasih makan anak sebaiknya ibu makan dulu itu nasi. Ibu rasakan bagaimana rasanya, enak atau tidak. Kalau enak buatmu maka enak pulalah buat anak kita,"  kata sang suami dengan nada lembut namun bak sembilu terasa menyayat perasaannya.

Bola mata yang tadinya berkaca, perlahan pecah menjadi butiran bening hingga mengalir ke pipi si Ibu. Namun belum lagi jatuh ke bumi, segera si ayah menangkap butiran bening itu dengan jemarinya yang penuh dengan kapalan. Nampak sorot mata si pria meredup disertai perasaan menyesal tergambar dari paras dan mimiknya.

" Ibu, maafkan aku sudah membuatmu sedih. Aku tak sengaja begitu. Aku hanya masih capek pulang kerja tiba tiba aku dengar rengekan anak kita. Maksud kalimatku aku tujukan buat si penjual keparat itu. Jangan mentang mentang punya kuasa dan berada lalu dia menyediakan beras murah seperti itu. Sebaiknya dia makan beras itu dulu sebelum menjualnya pada kita , memang murah tapi ini adalah kesengajaan tanpa disertai rasa iba ,"  rentet sang suami sambil memegangi tangan sang istri.

Si pria kembali berkata. Kali ini perutuknya ditujukan buat si mpunya beras atau penjualnya. Menurut si pria, entah didapat dari mana beras tak layak kemudian berhasil menjualnya kepada orang orang miskin dengan harga murah tapi tak semurah dengan hatinya . Modal jualan sedikit tapi keuntungan banyak. Atau mungkin beras yang mahal telah ditukar guling hidup hidup lalu disembelih jadi bangkai panggang kemudian disuguhan pada ramainya pemulung di jalanan. 

"Jika mereka tak mampu menjalankan modal besar, di sana akan ada orang orang yang tidak faham menjajakan barang. Akibatnya , derita buat penjual yang berada di jalan benar, tapi ada keuntungan besar bagi lintah darat yang menangkap adanya kelaparan ,"  tutup si pria sambil melempar tangkai dososnya ke "dipan" papan usang yang ada disamping dapur berdinding penuh noda asap dan arang. (budi)






[Ikuti RiauKarya.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar