Pola Replanting Kebun Plasma Petani Kelapa Sawit Masih Kontroversi
INHU,RIAUKARYA - Sistem penanaman kembali kebun kelapa sawit milik petani yang ada dibawah naungan bapak angkat PT. Mega Nusa Inti Sawit (MNIS) masih jadi kontroversial masyarakat.
Pasalnya, sebagian petani kelapa sawit memilih untuk bisa meremajakan tanamannya itu dengan cara dan pola mandiri. Akan tetapi sebagian petani juga masih menunjukan sikap setianya bermitra dengan perusahaan pemitra selama ini.
Seperti halnya pilihan petani yang terdapat di desa Bukit Indah kecamatan Rakit Kulim kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Warga petani didesa itu bisa dibilang terbelah dua, satu bermitra dengan perusahaan, satu lagi memilih untuk menanam kebunnya lagi dengan pola mandiri atau swaklola.
Hal itu diungkapkan langsung oleh kepala desa Bukit Indah, Wawan belum lama ini. Menurut Wawan, warganya saat ini bebas untuk memilih pola mana yang lebih baik untuk meremajakan tanamannya (replanting) itu.
Wawan melanjutkan, bahkan petani yang ada di desa yang ia pimpin saat ini semua diberi fasilitas oleh pengurus Koprasi yang menaunginya. Dikatakan oleh Wawan bahwa pengurus Koprasi desanya itu siap memfasilitasi keperluan petani dalam urusan rencana replanting.
" Ya saat ini warga kami bebas memilih dan pengurus koprasinya pun membuka pintu fasilitas buat mereka semua " tutur Wawan.
Tak hanya ada di desa Bukit Indah. Di kecamatan Batang Cenaku juga terjadi hal serupa. Seperti halnya desa Kerubung Jaya yang memilih peremajaan tanamannya secara mutlak dengan pola mandiri.
Bahkan di desa Bukit Lipai kecamatan Batang Cenaku juga dengar beberapa individu petani memilih menanam dengan pola mandiri. Hal itu disampaikan oleh pengurus Kelompok Tani (KT) 8A, Ahmad. Ahmad alias Amat mengatakan jika ada 10 anggotanya memilih pola mandiri.
" Dikelompok kami ada beberapa petani yang memilih pola menanam sendiri atau mandiri. Tapi ini sifatnya baru rencana, entahlah nanti tunggu tanggal mainnya seperti apa " papar Amat.
Perbincangan diseputar urusan ini terus liar menyeruak ditengah perbicangan masyarakat. Beberapa penilaian dan analisis pun dilakukan secara pelan. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan,baik itu pola mandiri ataupun pola kemitraan.
Satu pengamat dari desa Bukit Lipai, Budi (46) bicara, jika itu pola mandiri, maka petani belum siap menghadapinya. Sebab, banyak sekali hal hal besar yang harus mampu dihadapi terutama kelak jika ingin bermain harga buah kelapa sawitnya.
Budi melanjutkan, saat ini rata rata petani hanya bisa menjual dan mendapati harga buah tertinggi di pabrik pabrik terdekat. Dimana harga pabrik pabrik itu diketahui selama ini selalu memiliki grafik dibawah harga pabrik PT.MNIS.
" Ini artinya harga dari MNIS tak mudah dikalahkan, mampukah untuk itu ? jawabnya, belum atau tidak. Dan ini hanya satu faktor saja saya ambil,belum hal hal besar lainnya " ujarnya.
Kemudian terkait pola mitra dengan perusahaan, Budi juga mengatakan jika pun ada petani yang memilih menanam sendiri maka itu harus dihargai. Sebab, mustahil jika dikurun waktu hampir 30 tahun berlalu mereka telah belajar ilmu pengetahuan dari "bapak angkatnya " lalu petani itu tidak akan mampu mengolah dan merawat kebunnya sendiri. Ini mustahil.
Selanjutnya Budi berharap bagi petani kemitraan nantinya tidak akan menjumpai titik titik krusial jika kerjasamanya dengan perusahaan berlanjut. Hal terpenting menurutnya adalah petani harus mendudukan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dengan perusahaan itu dengan baik dan benar.
" Mereka pasti mampu dan sudah mahir. Hanya saja faktor perolehan harga TBS nantinya jadi penentu pilihan. Namun hal ini juga tidak bisa dipastikan jika beberapa diantara banyaknya petani sebenarnya ada yang mampu melakukan ini,dan ingat buat yang memilih kemitraan tentunya mereka harus bisa mendudukan SPK nya dengan benar bersama perusahaan " tutupnya, Rabu (15/07/2026) sekira pukul 17.00 WIB.(*)