Kemerdekaan Memilih dan Bayang-bayang Krisis Identitas Remaja

Senin, 01 Juni 2026 | 21:27:05 WIB
Azzahra Lady Ashel

TINJAUAN KURIKULUM MERDEKA MELALUI KACAMATA ERIKSON

 

Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang dirancang sebagai pengganti kurikulum 2013 (K13). Kurikulum ini memberikan suatu terobosan dimana adanya transisi dari pengotakan pilihan siswa hanya berdasarkan IPA / IPS menjadi kebebasan dalam menentukan mata pelajaran pilihan. Di jenjang SMA, kurikulum merdeka memberikan peserta didik keleluasaan untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.

Hal ini sesuai dengan teori erikson, dimana tahap perkembangan manusia di usia ini berada pada fase “identity vs. role confusion”. Tugas perkembangan di tahap ini berfokus pada menemukan “siapakah saya?”. Penyelesaian tugas ini difasilitasi dengan memberikan peserta didik kebebasan untuk mengeksplorasi minat, nilai, dan tujuan mereka, yang membantu mereka membentuk identitas unik mereka sendiri. Jika peserta didik merasa dibatasi akan pilihan mereka, maka hal ini bisa saja menjurus kepada kebingungan peran.

Implementasi kurikulum merdeka menyimpan sebuah harapan bagi peserta didik untuk mulai memikirkan masa depan serta belajar bertanggung jawab pada pilihannya. Berdasarkan panduan pemilihan mata pelajaran pilihan, peserta didik hendaknya memilih mata pelajaran yang sesuai dengan rencana studi selanjutnya atau profesi yang diminati. Sangat penting bagi peserta didik untuk memahami minat dan bakat serta menyadari kemampuan mereka dalam bidang yang diminati.

Hal ini difasilitasi melalui kesediaan layanan konseling untuk pemilihan mata pelajaran pilihan kepada seluruh peserta didik. Guru BK, guru mata pelajaran, dan wali kelas secara bersinergi melakukan pendampingan eksplorasi minat, bakat, dan kemampuan peserta didik. Peserta didik dibimbing untuk membuat perencanaan kariernya secara reflektif, dari mulai identifikasi rencana profesi yang sesuai dengan profil kepribadian kariernya, rencana studi yang akan menunjang, hingga mapel pilihan yang akan mendukung rencana studinya.

Kurikulum Merdeka berasumsi bahwa remaja adalah individu otonom yang sudah selesai dengan dirinya.

BADAI Di BALIK ANGIN SEGAR

Proses pemilihan mata pelajaran ini sudah dirancang dengan sangat terstuktur dan sistematis. Namun dalam proses implementasinya, kenyataan di lapangan tidak se-ideal pada panduan. Kebijakan ini bisa menjadi senjata makan tuan jika tidak dilaksanakan dengan baik.

Erikson memberikan istilah moratorium psikososial dimana pada periode ini, peserta didik seharusnya diberikan kebebasan dalam bereksperimen tanpa tekanan sosial penuh atau konsekuensi permanen dari kehidupan dewasa. Memberikan kebebasan dalam memilih mata pelajaran tampak seperti udara segar bagi peserta didik dalam mengeksplorasi minat dan bakatnya serta menemukan identitasnya.

Tetapi ada badai yang sedang bersembunyi dibalik angin segar tersebut, dimana peserta didik secara tidak langsung diberikan tekanan untuk memilih dan belajar bertanggung jawab akan pilihannya. Hal ini merupakan konsekuensi jangka panjang yang akan dihadapi oleh peserta didik atas pilihan yang mereka ambil. Moratorium yang berkepanjanganan dapat menyebabkan kebingungan peran yang lebih akut bagi peserta didik yang belum siap untuk menanggung beban tersebut.

Mengidentifikasi minat peserta didik mungkin sulit untuk dilakukan. Bisa saja mata pelajaran tersebut memang benar-benar minat peserta didik untuk ditekuni lebih dalam atau mereka berminat karena mata pelajaran itu terasa lebih mudah untuk dijalani.

Selain itu, pada tahap ini, berdasarkan teori erikson, pengaruh teman sebaya sangat tinggi. Peserta didik mulai menempatkan teman sebaya sebagai pondasi dalam mengambil keputusan. Kemungkinan yang akan muncul adalah peserta didik memilih mata pelajaran karena terpengaruh dengan teman-temannya. Hal ini tentu akan menjurus kepada krisis identitas yang lebih lanjut bagi peserta didik.

Keputusan akan pilihan mata pelajaran ini bisa jadi juga berasal dari pengaruh orang tua. Wajar jika peserta didik masih takut / tidak berani mengambil keputusan sendiri. Fenomena ini disebabkan karena peserta didik belum selesai memenuhi tugas perkembangannya sebelumnya, seperti pada tahapan “otonomy vs. shame and doubt” dimana jika tahap perkembangan ini belum dipenuhi oleh peserta didik, maka mereka akan memiliki rasa ketergantungan berlebihan pada orang lain dan tidak percaya diri untuk mengambil keputusan atau tahap “initiative vs. guilt” dimana peserta didik yang tidak memenuhi tugas perkembangannya di tahap ini akan merasa bahwa ide / pendapat mereka tidak dapat diterima sehingga menghambat keinginannya untuk membuat pilihan sendiri.

JEBAKAN Di BALIK “KEMERDEKAAN” BELAJAR

Sebenarnya konsekuensi apa yang akan dihadapi oleh peserta didik? Kesalahan dalam identifikasi minat, bakat, dan profesi ini bisa dideteksi ketika peserta didik sudah mendekati jenjang akhir dari masa sekolah. Pada tahap ini, beberapa peserta didik mulai benar-benar menyadari apa yang sebenarnya mereka ingin capai dan siapa diri mereka sebenarnya.

Namun, di saat kesadaran itu muncul, peserta didik mulai terjebak dalam pilihan mereka. Misalkan mereka awalnya memilih menu mata pelajaran untuk pilihan kedokteran dimana mereka tidak mengambil mata pelajaran fisika. Seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa mereka lebih tertarik ke kimia dan ingin mengambil jenjang pendidikan lebih lanjut dengan program studi Teknik Kimia.

Dalam kenyataannya, program studi ini membutuhkan kemampuan dasar berupa pengetahuan fisika, kimia, matematika dan biologi (khusus untuk jalur studi bioproses dan teknologi pangan). Apa akibatnya bagi peserta didik?

Bagi peserta didik yang memiliki rasa tanggung jawab akan dirinya, maka mungkin mereka memiliki daya juang yang lebih tinggi untuk mendalami fisika secara mandiri untuk mengejar ketertinggalan mereka. Hal ini bisa disebabkan karena peserta didik telah selesai memenuhi tugas perkembangannya sebelumnya, seperti pada tahapan “otonomy vs. shame and doubt” dimana jika tahap perkembangan ini sudah dipenuhi oleh peserta didik, maka mereka akan percaya diri dengan kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan.

Bagaimana dengan peserta didik yang belum memiliki rasa tanggung jawab akan pilihannya dan takut mengambil risiko? Mereka akan tetap di pilihan sebelumnya yaitu kedokteran (atau program studi lainnya yang sekiranya linear dengan mata pelajaran yang dipilih), meskipun mereka merasa bahwa itu bukanlah tujuan mereka sebenarnya.

Konsekuensi ekstrimnya adalah peserta didik mungkin merasa frustasi karena tidak bisa menggapai tujuannya. Hal inilah yang dinamakan dengan krisis identitas berkelanjutan yang dapat berakibat pada ketidakyakinan peserta didik tentang peran dan masa depan mereka. Hal ini juga bisa mengakibatkan pemberontakan dalam bentuk membangun identitas negatif serta perasaan tidak bahagia.

Dapat disimpulkan bahwa, dalam rancangannya, kebijakan ini telah dirancang dengan sangat baik dan maksimal dengan mempertimbangkan sebab, akibat, dan opsi lain. Namun kenyataan di lapangan belum se ideal rancangan tersebut. Ketersediaan SDM guru mata pelajaran yang belum maksimal bisa menjadi penghambat bagi peserta didik untuk mengeksplorasi keseluruhan mata pelajaran yang diinginkannya.

Selain itu, ketersediaan guru BK yang di beberapa kasus ditemukan bahwa suatu sekolah tidak memiliki guru BK juga menjadi faktor belum maksimalnya implementasi kebijakan ini. Di balik itu, faktor psikososial terkait tahap perkembangan peserta didik yang berbeda-beda juga bisa menjadi sebuah senjata mematikan bagi peserta didik sebagai akibat dari implementasi kebijakan ini.

Maka dalam tinjauan lebih lanjut, haruslah ada refleksi dan evaluasi terkait kebijakan ini. Harapannya agar peserta didik tidak terjebak dalam krisis identitas berkelanjutan dan mampu membangun pribadinya dengan perasaan bahagia.(*) 

Tags

Terkini