ROKAN HILIR – Dunia pendidikan tinggi di Riau dikejutkan oleh aksi kekerasan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau. Seorang mahasiswa tega membacok mahasiswi di dalam area kampus hanya karena persoalan asmara yang berujung pada tindakan kriminal. Pelaku diduga telah merencanakan aksinya dengan membawa senjata tajam ke lingkungan akademik.
Menanggapi tragedi ini, anggota DPR RI asal Riau, Karmila Sari, memberikan sorotan tajam. Menurutnya, meskipun kampus adalah ruang publik milik bersama, sistem pengawasan keamanan kini menjadi dilema yang nyata.
"Kita pahami kampus itu milik bersama. Namun, untuk melakukan pengecekan detail seperti di mal terhadap ribuan sivitas akademika tentu akan memakan waktu lama dan menimbulkan ketidaknyamanan, apalagi aktivitas kampus berlangsung dari subuh hingga malam," ujar Karmila.
Lebih lanjut, Karmila menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan pengetatan fisik, tetapi juga melalui penguatan karakter. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) di kalangan mahasiswa.
"Pendidikan itu bukan hanya untuk hafalan, tapi untuk menganalisa dan mengatasi emosi secara berimbang. Sangat disayangkan jika mahasiswa berpendidikan tinggi harus mengorbankan masa depannya dan kerja keras orang tuanya hanya demi pelampiasan ego dan emosi sesaat melalui kekerasan," tambahnya.
Karmila juga mendorong optimalisasi Satuan Tugas (Satgas) pencegahan kekerasan di kampus, sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Ia mengajak sesama mahasiswa untuk lebih peduli terhadap kondisi mental rekan-rekan mereka. Peran teman sebaya dianggap sangat krusial sebagai 'tameng' untuk saling mengingatkan agar tidak bertindak di luar nalar sehat saat menghadapi masalah pribadi atau percintaan.
Saat ini, pelaku telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani proses hukum. Sementara itu, pihak universitas diharapkan dapat mengevaluasi sistem keamanan serta memperkuat layanan konseling bagi mahasiswa guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (rif)