Mahasiswa DEMA IAIN Datuk Laksemana Bengkalis Susun Kajian Abrasi Desa Prapat Tunggal
BENGKALIS – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Datuk Laksemana Bengkalis melalui Kementerian Sosial, Politik, dan Ekonomi tengah menyusun kajian mengenai fenomena abrasi yang terjadi di Desa Prapat Tunggal, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Kajian tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir, sekaligus sebagai kontribusi akademik dalam memberikan masukan terhadap upaya penanganan abrasi.
Tim observasi yang terdiri dari Norhatika dan Tiara Ramadhani melakukan peninjauan langsung ke lokasi abrasi serta mewawancarai masyarakat dan aparatur Pemerintah Desa Prapat Tunggal. Kegiatan ini bertujuan memperoleh data yang akurat mengenai kondisi abrasi, dampak yang dirasakan masyarakat, serta berbagai upaya penanganan yang telah dilakukan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa abrasi di Desa Prapat Tunggal terus mengalami perkembangan yang mengkhawatirkan. Sejak 2023, kerusakan semakin meluas yang ditandai dengan rusaknya jalan beton, tumbangnya pohon-pohon pelindung pantai, serta terus terkikisnya garis pantai akibat hantaman gelombang laut.
Dampak abrasi telah dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Satu unit rumah bantuan pemerintah terpaksa dievakuasi karena sudah tidak lagi aman untuk dihuni. Selain itu, jalan pesisir mengalami kerusakan hingga terputus akibat pengikisan tanah. Abrasi juga merusak kawasan wisata, termasuk pendopo dan akses jalan menuju lokasi wisata, sehingga turut mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah pesisir.
Berdasarkan hasil wawancara, kondisi tanah di lokasi abrasi merupakan tanah endapan atau tanah timbul yang secara alami lebih rentan terhadap pengikisan gelombang laut. Karakteristik tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan abrasi terus berlangsung apabila tidak diimbangi dengan upaya mitigasi yang tepat.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat bersama pemerintah desa telah melakukan penanaman mangrove serta pemasangan buluh sebagai penahan gelombang sekaligus pelindung bibit mangrove. Namun, program yang masih bersifat pilot project tersebut belum mampu menjangkau seluruh titik abrasi sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif.
Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, hingga Pemerintah Provinsi Riau telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi abrasi dan membahas berbagai alternatif penanganan permanen, termasuk pembangunan infrastruktur pengaman pantai. Namun, realisasi program tersebut masih terkendala kebijakan efisiensi anggaran sehingga masyarakat masih mengandalkan upaya penanganan sementara.
Abrasi di Desa Prapat Tunggal kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga telah berdampak pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi ini menuntut adanya percepatan penanganan melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, pemerintah pusat, akademisi, dan masyarakat agar solusi yang tepat, terpadu, dan berkelanjutan dapat segera diwujudkan.
Melihat dampak abrasi yang telah mengancam permukiman, fasilitas umum, serta aktivitas masyarakat pesisir, DEMA IAIN Datuk Laksemana Bengkalis mendorong Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Pemerintah Provinsi Riau untuk menetapkan Desa Prapat Tunggal sebagai salah satu wilayah prioritas penanganan abrasi pesisir. Percepatan pembangunan infrastruktur pengaman pantai permanen yang dipadukan dengan upaya mitigasi berbasis ekosistem dinilai perlu segera direalisasikan agar kerusakan yang terjadi tidak semakin meluas dan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat pesisir dapat terjaga.(*)
Penulis: Norhatika ketua Kementerian Sosial dan Politik DEMA IAIN Datuk Laksamana Bengkalis.