Oleh: Dameria Elisabeth Simanjuntak
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kehadiran kecerdasan buatan, media sosial, dan akses informasi tanpa batas membuat proses belajar menjadi lebih terbuka dan cepat. Siswa kini dapat memperoleh pengetahuan melalui perangkat digital yang mereka miliki, sementara guru memiliki lebih banyak sumber dan media pembelajaran dibanding generasi sebelumnya. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut sebenarnya dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Banyak siswa mengalami kesulitan menjaga fokus belajar, mudah terdistraksi, kurang sabar dalam menghadapi proses, bahkan perlahan kehilangan motivasi untuk berkembang. Dalam pembelajaran matematika misalnya, tidak sedikit siswa merasa takut mencoba menyelesaikan soal karena khawatir melakukan kesalahan atau dianggap kurang mampu.
Keadaan tersebut sering kali dipahami semata-mata sebagai persoalan kedisiplinan atau lemahnya karakter siswa. Padahal, proses belajar seseorang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat ia tumbuh dan berinteraksi yang membentuk karakter itu. Di era digital, anak tidak hanya belajar dari sekolah, tetapi juga dari media sosial, internet, komunitas virtual, serta berbagai informasi yang mereka temui setiap hari. Lingkungan inilah yang secara perlahan membentuk pola pikir, sikap, dan kebiasaan belajar mereka. Pandangan ini sejalan dengan teori medan (field theory) dari Kurt Lewin yang menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi antara individu dan lingkungannya. Dalam konteks pendidikan, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh suasana keluarga, pola komunikasi guru, lingkungan sosial, dan budaya belajar di sekitarnya.
Perkembangan teknologi yang begitu cepat juga melahirkan budaya digital yang serba instan. Siswa terbiasa memperoleh jawaban cepat tanpa melalui proses berpikir yang mendalam sehingga sebagian dari mereka menjadi kurang sabar menghadapi pembelajaran yang membutuhkan ketekunan dan latihan berulang. Hal ini tampak dalam pembelajaran matematika ketika siswa lebih fokus mencari jawaban akhir dibanding memahami proses penyelesaian masalah. Padahal, pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan memperoleh jawaban benar, tetapi juga melatih cara berpikir logis, keberanian mencoba, dan kesiapan menghadapi kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Karena itu, lingkungan belajar memiliki peran penting dalam membentuk sikap siswa terhadap pendidikan. Ketika guru menghargai proses berpikir, memberi ruang bertanya, dan tidak menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan, siswa akan lebih berani belajar dan mengembangkan potensinya.
Pandangan tersebut juga selaras dengan teori hierarki kebutuhan manusia dari Abraham Maslow. Maslow menjelaskan bahwa manusia memerlukan rasa aman, penghargaan, dan penerimaan sosial sebelum mampu berkembang secara optimal. Dalam dunia pendidikan, teori ini memberikan pemahaman bahwa siswa bukan sekadar individu yang menerima materi pelajaran, tetapi manusia yang datang ke ruang belajar dengan latar belakang dan kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Ada siswa yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang suportif, tetapi ada pula yang hidup di tengah tekanan sosial, kurangnya perhatian emosional, atau tuntutan yang berlebihan.
Anak yang tumbuh dalam tekanan, kurang perhatian, atau tidak merasa dihargai akan lebih sulit berkonsentrasi dan kehilangan keberanian untuk mencoba. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam dukungan cenderung lebih berani menghadapi kesalahan dan tantangan belajar, lebih percaya diri, dan lebih mampu mengembangkan potensinya. Namun, memahami kondisi psikologis dan emosional siswa bukan berarti membenarkan sikap malas atau rendahnya tanggung jawab belajar. Pendidikan tetap memiliki peran penting dalam membentuk disiplin, karakter, dan ketekunan, hanya saja pembentukan karakter generasi digital memerlukan pendekatan yang lebih bijak dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Karena itu, pendidikan tidak dapat dipandang sebagai tanggung jawab sekolah semata. Guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran yang saling berkaitan dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan mendukung perkembangan siswa. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga membangun cara berpikir dan sikap belajar siswa. Orang tua tidak hanya menyekolahkan dan melepaskan tanggung jawab kepada guru dan sekolah, melainkan juga memberikan dukungan emosional dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, masyarakat perlu membangun budaya yang menghargai proses belajar, sementara pemerintah perlu menghadirkan kebijakan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada angka dan hasil ujian.
Teknologi memang dapat membantu proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran lingkungan dalam membentuk karakter, cara berpikir, dan keberanian siswa untuk berkembang. Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, memberikan alasan dan argument yang tepat untuk setiap jawaban, memiliki karakter, berani menghadapi kesalahan, dan siap menghadapi perubahan zaman. (*)