KUANSING – Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi bersama Balai Bahasa Provinsi Riau memperkuat sinergi dalam melestarikan Bahasa Melayu Riau melalui agenda Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).
Langkah ini diwujudkan dengan digelarnya Bimtek Guru Utama pada Selasa (12/5) di SMPN 6 Kuantan Singingi.
Fokus utama kegiatan ini adalah memastikan Bahasa Melayu Riau tetap eksis dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang semakin dinamis dan global.
Asisten II Setda Kuansing, Napisman, dalam sambutannya menekankan bahwa Bahasa Melayu Riau adalah identitas yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Ia menyebutkan bahwa kehilangan bahasa sama saja dengan kehilangan sejarah dan harga diri daerah.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan Balai Bahasa menjadi sangat strategis untuk memastikan bahasa ibu tetap menjadi tuan rumah di tanah sendiri, khususnya di wilayah Kuantan Singingi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, memaparkan bahwa RBD adalah upaya sistematis untuk memulihkan daya hidup bahasa daerah.
Ia mengingatkan bahwa Bahasa Melayu Riau memiliki kedalaman makna yang tercermin dalam adat istiadat dan tradisi lisan.
Melalui Bimtek ini, kurikulum muatan lokal diharapkan semakin kuat dengan materi-materi segar seperti tembang tradisi dan pidato bahasa daerah yang diajarkan oleh para pakar.
Kegiatan yang dihadiri oleh Sekretaris Disdikpora Kuansing Zulmaswan, Kepala Bagian Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi, Alpion dan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang sastra dan seni tutur.
Para narasumber memberikan teknik-teknik baru dalam mengajarkan bahasa daerah agar lebih relevan dengan minat siswa saat ini. Selain pelatihan, peluncuran buku dwibahasa Indonesia-Melayu dialek Kuansing juga menjadi bukti nyata bahwa pendokumentasian bahasa dalam bentuk karya tulis terus berjalan.
Pasca-kegiatan ini, para guru diwajibkan melakukan pengimbasan kepada peserta didik untuk mempersiapkan diri menghadapi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten dan provinsi. Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi gerakan masif yang menyentuh akar rumput.
Dengan terjaganya Bahasa Melayu Riau, identitas kultural masyarakat Riau akan tetap kokoh dan dihormati oleh generasi mendatang. (rls)