Riaukarya.com - Relawan pendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kali ini mengkritik dan menyentil aparat penegak hukum (APH) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).
Sikap tegas tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Rakyat Prabowo-Gibran (Garapan), Larshen Yunus.
Menurut aktivis hak asasi manusia (HAM) tersebut, selama ini APH di Kuansing dinilai tidak mampu menerapkan semangat PRESISI yang dicanangkan oleh Kapolri. Hal ini terutama terkait upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta menjalankan proses penegakan hukum. Kepolisian di daerah itu dianggap cenderung bermain-main dengan nasib seseorang.
Sebagai contoh, Larshen menyoroti aktivitas tambang rakyat di Kuansing. Ia menegaskan bahwa APH seharusnya bertindak lebih bijak dengan memahami nilai-nilai kearifan lokal.
“Dari dulu hingga sekarang, permasalahan ini belum menemui titik terang. Penegakan hukum hanya menjadi pepesan kosong. Bahkan, sering kali dianggap sebagai manuver untuk mencari keuntungan tertentu. Aktivitas tambang rakyat ini sudah berlangsung jauh sebelum Mapolres Kuansing berdiri. Kami berharap ada pendekatan yang lebih persuasif terkait pelestarian lingkungan. Jangan sedikit-sedikit tangkap orang! Kami sudah sering menyaksikan video penangkapan oleh polisi, dan kita semua tahu bagaimana akhirnya. Wallahu a'lam bisshawab,” ungkap Larshen Yunus sambil meneteskan air mata.
Ketua Umum DPP Garapan itu memastikan pihaknya akan segera menyurati Kapolres Kuansing.
Sebagai lulusan Universitas Riau dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Larshen Yunus menekankan pentingnya menghormati nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang terkandung dalam aktivitas tambang rakyat. Ia mengingatkan bahwa Kuansing adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari minyak sawit, migas, hingga emas dan perak.
“Tolong, Pak Kapolres Kuansing beserta jajaran Kapolsek, mari kita kedepankan penegakan hukum yang lebih bijak dan humanis. Jangan pakai sandiwara. Jika memang tidak maksimal, lakukan langkah yang lebih produktif. Biarkan masyarakat mencari nafkah lewat aktivitas seperti itu. Yang perlu dilakukan adalah edukasi mengenai pelestarian lingkungan,” harap Larshen Yunus, mengakhiri pernyataan persnya.**