Literasi Digital di Kampar: Lindungi Diri dari Penipuan di Ruang Digital

Jumat, 13 Agustus 2021

KAMPAR - Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital. Ditindak lanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021. 

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Pada hari Kamis 12 Agustus 2021 pukul 13.30 WIB, Webinar Indonesia Makin Cakap Digital dilaksanakan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Sebagai Keynote Speaker adalah Gubernur Provinsi Riau yaitu, Drs. H. Syamsuar, M.Si., dan Presiden RI, H. Jokowi memberikan sambutan pula dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Melani Soebono (Ativis dan Musisi), pada sesi Kecakapan digital. Melani memaparkan tema “Positif, Kreatif, Dan Aman di Internet”. 

Dalam pemaparannya, Melanie menjelaskan berdamai dengan digital merupakan syarat untuk menguasai digital. Manusia harus pintar dalam memanfaatkan dunia digital. Terdapat konten positif dan negatif yang ada di media sosial. Semua tergantung pada seseorang ingin mengakses konten negatif maupun positif. Peran orang tua sangat penting untuk mengontrol apa yang sedang diakses oleh anak di media sosial. 

Konten negatif yang terdapat pada media sosial berupa hoax dan misleading. Untuk mendapatkan berita hoax dapat dicegah dengan cara mencari informasi yang valid di internet maupun melaporkannya di turn back hoax. 

Terkadang, terdapat beberapa orang tua yang enggan repot untuk menghadapi teknologi digital namun sebagai anak harus sadar dengan memanfaatkan media sosial untuk konten yang positif karena, jejak digital tidak bisa hilang selamanya.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital, oleh I Gede Putu Juliharta, S.T., M.T (Wakil Ketua III STMIK Primakara dan Praktisi TIK). Putu mengangkat tema “Jenis-Jenis Penipuan Di Internet Dan Cara Menghindarinya”. 

Putu membahas cybercrime merupakan suatu tindakan atau kejadian yang berkaitan dengan teknologi komputer. Dimana seseorang mendapatkan keuntungan dengan merugikan pihak lain. 

Jenis-jenis cybercrime, meliputi phising, hacking, carding, peretasan, cyber bullying dan penipuan online. Jenis-jenis penipuan online, mencakup penipuan antivirus, penipuan amal, penipuan lowongan kerja, penipuan di jejaring sosial, penipuan cek palsu, serta penipuan pembelian di internet.

Tips mencegah penipuan di media online, dengan cara tidak sembarang berbagi data pribadi di media sosial, membuat PIN yang aman dang anti secara berkala, selalu perbarui perangkat lunak di gawai dan komputer, cek status izin peminjaman online di situs OJK, serta waspada saat mengklik tautan.

Sesi Budaya Digital, oleh R. Sriayu Indrapuri, S.Pd., M.Pd (Dosen STIKES Awal Bros Pekanbaru). Sri memberikan materi dengan tema “Bijak Sebelum Mengunggah Di Media Sosial”. 

Sri membahas bijak merupakan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari akar pikir sesuai dengan ilmu pengetahuan yang tepat. Media sosial merupakan media online untuk berinteraksi, bersosialisasi tanpa batas ruang dan waktu. 

Bijak sebelum mengunggah di media sosial, dengan cara membaca ilmu pengetahuan secara jelas dan teliti, menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan norma yang berlaku pada lingkungan masyarakat, serta baca kembali sebelum mengunggah informasi atau komentar di media sosial. 

Manfaat yang didapat dari bijak dalam mengunggah di media sosial, meliputi menunjukan kualitas diri seseorang, memiliki banyak jaringan dan relasi, serta dapat menciptakan perdamaian.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital, oleh Tengku Novenia Yahya, S.Pd (Penulis dan Konten Kreator). Tengku mengangkat tema “Digital Content: Do’s Anda Don’ts”. 

Tengku menjelaskan konten digital diukur dengan standar yang berbeda dan tergantung pada platformnya. Konten digital yang harus dilakukan meliputi, mengenal dan mengaudentifikasi audience, konten kreator perlu mengetahui siapa audiensnya dan mengidentifikasinya. 

Menetapkan tujuan yang jelas, konten kreator harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur. Serta berinvestasi terhadap format dan desain, konten kreator perlu menyajikan kontennya secara visual dan interaktif.

Konten digital yang tidak perlu dilakukan meliputi, fokus pada kuantitas, akan menghasilkan konten yang biasa saja dan cenderung hanya mengejar jumlah daripada kualitas. Menjebak audiens, konten kreator bertanggung jawab mulai dari judul, isi, dan pengemasan konten. Serta, mengikuti arus, jangan mengikuti arus dan meniru keberhasilan konten orang lain.

Webinar diakhiri, oleh Jessiline Olivia (Influencer dengan Followers 15 Ribu). 

Jesseline menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa manusia harus pintar dalam memanfaatkan dunia digital. Terdapat konten positif dan negatif yang ada di media sosial. Semua tergantung pada seseorang ingin mengakses konten negatif maupun positif. Peran orang tua sangat penting untuk mengontrol apa yang sedang diakses oleh anak di media sosial. 

Tips mencegah penipuan di media online, dengan cara tidak sembarang berbagi data pribadi di media sosial, membuat PIN yang aman dang anti secara berkala, selalu perbarui perangkat lunak di gawai dan komputer, cek status izin peminjaman online di situs OJK, serta waspada saat mengklik tautan.

Bijak sebelum mengunggah di media sosial, dengan cara membaca ilmu pengetahuan secara jelas dan teliti, menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan norma yang berlaku pada lingkungan masyarakat, serta baca kembali sebelum mengunggah informasi atau komentar di media sosial.

Konten digital yang harus dilakukan, salah satunya mengenal dan mengaudentifikasi audience, konten kreator perlu mengetahui siapa audiensnya dan mengidentifikasinya. Konten digital yang tidak perlu dilakukan, salah satunya fokus pada kuantitas, akan menghasilkan konten yang biasa saja dan cenderung hanya mengejar jumlah daripada kualitas. (rilis)