Oleh: Dameria Elisabeth – Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika UPI
Desember 2025.
“Matematika bukan sekadar berhitung. Di balik rumus dan angka, tersimpan latihan berpikir jujur, reflektif, dan bermoral.”
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kecanggihan teknologi, sains sering dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran. Kita menyandarkan diri pada data, bukti empiris, dan eksperimen. Namun, di balik kejayaan sains, ada fondasi yang kerap terlupakan: filsafat - dua jalan yang saling melengkapi dalam pencarian makna dan kebenaran.
Sains lahir dari rahim filsafat. Tokoh-tokoh seperti Pythagoras, Descartes, dan Newton bukan hanya ilmuwan tetapi juga filsuf yang bertanya mengapa hukum-hukum alam ada dan untuk apa pengetahuan digunakan. Filsafat memberi arah moral dan makna bagi penemuan ilmiah.
Dalam pendidikan matematika, hubungan ini sangat penting. Matematika sering dianggap “dingin” dan bebas nilai, padahal sejatinya ia adalah latihan berpikir logis, reflektif, dan bermoral. Saat siswa membuktikan teorema atau memecahkan masalah kompleks, mereka sedang belajar kejujuran intelektual bahwa setiap langkah harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Sayangnya, banyak siswa kini mahir berhitung tetapi kehilangan makna. Fenomena mencontek, memakai AI tanpa refleksi, atau mengejar nilai tanpa proses kritis menunjukkan terpisahnya sains dari filsafat. Siswa bisa menjawab soal, tetapi tidak mampu menjawab pertanyaan moral: mengapa kejujuran penting?
Filsafat membantu guru dan siswa memahami matematika sebagai sarana melatih cara berpikir yang benar dan beretika. Pertanyaan seperti “Apakah langkahmu sudah jujur dan logis?” atau “Apa arti kebenaran dalam proses matematis?” menumbuhkan nalar kritis dan moralitas.
Filsafat juga mengajarkan kerendahan hati intelektual. Popper dengan falsifikasi menegaskan bahwa teori ilmiah selalu terbuka untuk diuji. Dalam matematika, ini berarti kesalahan adalah peluang memperbaiki cara berpikir membangun kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab intelektual.
Pendidikan matematika yang berakar pada filsafat ilmu akan melahirkan siswa yang cerdas secara kognitif dan matang secara moral. Sains tanpa filsafat mampu melahirkan manusia cerdas tanpa arah; filsafat tanpa sains melahirkan gagasan luhur tanpa pijakan. Keduanya harus berjalan bersama.
Akhirnya, sains, filsafat, dan pendidikan matematika memiliki tujuan yang sama: membentuk manusia yang utuh berpikir jernih, berperilaku bijak, dan memahami makna pengetahuan. Di tengah kemajuan teknologi dan tantangan moral generasi muda, sudah saatnya kita menyatukan logika sains dan kebijaksanaan filsafat dalam ruang kelas.**