Penuh Semangat, Ratusan Santri dari 19 Pondok Pesantren Ikuti Upacara Hari Santri Nasional di Rokan Hilir

Kamis, 23 Oktober 2025 | 11:09:07 WIB
Lebih dari tujuh ratus santri dari 19 pondok pesantren mengikuti upacara Hari Santri Nasional ke X tahun 2025 di Kepenghuluan Rantau Panjang Kiri, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, pada Rabu (22/10/2025) pagi. (Riaukarya.com)

ROKAN HILIR - Lebih dari tujuh ratus santri dari 19 pondok pesantren mengikuti upacara Hari Santri Nasional ke X tahun 2025 di Kepenghuluan Rantau Panjang Kiri, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, pada Rabu (22/10/2025) pagi.

Tak sedikit pun semangat para santri tersebut surut meski upacara dalam suasana gerimis tipis, dan Stadion Mini tempat upacara tampak becek.

Sebagian santri datang dari jauh menggunakan truk dan bus. Perayaan Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema penuh makna “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.”

Sebagai inspektur upacara adalah Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah, Nurmansyah yang membuka secara resmi peringatan tersebut.

Tari persembahan mengawali upacara pada pagi itu diikuti pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh 46 santri dengan formasi huruf “HSN” diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Selanjutnya pembacaan pembukaan UUD 1945 oleh Camat Kubu, Hasan Usman, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri Indonesia oleh perwakilan santri Pondok Pesantren Dar Aswaja.

Upacara tersebut juga dihadiri para tokoh masyarakat, alim ulama, anggota DPRD, dan unsur Forkopimcam.

Saat itu, Nurmansyah membacakan amanat Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri berakar dari Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945.

“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman. Mereka harus tampil sebagai pelaku sejarah baru yang membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam membangun peradaban dunia yang damai dan berkeadaban,” demikian pesan Menteri Agama.

Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Santri, menurutnya, harus memelihara kearifan pesantren sembari menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahasa global.

“Rawatlah tradisi pesantren, tetapi juga peluklah inovasi zaman. Dari tangan para santri lah masa depan Indonesia akan ditulis,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai luhur santri dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat, menjadikan Rokan Hilir sebagai daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga unggul dalam karakter dan keadaban.

Tags

Terkini