Seru! Sawer Pengantin di Kediaman Salah Seorang Warga Desa Talang Bersemi

Jumat, 24 Januari 2025 | 15:47:39 WIB

INHU - Upacara sawer panganten adalah salah satu tradisi yang tak terlupakan dalam pernikahan adat Sunda. Dalam budaya Sunda, pernikahan tidak hanya merupakan ikatan antara dua individu, tetapi juga antara dua keluarga. Upacara ini menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan antara mempelai dan keluarga mereka.

Kata "nyawer" berasal dari kata "awer", yang berarti seember air yang dapat diuwar-awur (diciprat-cipratkan atau ditebar-tebarkan). Pendapat lain menyebutkan, ditulis dalam buku Bagbagan Puisi Sawer Sunda, bahwa istilah "nyaweran" berasal dari kata "penyaweran", yang berarti tempat yang sering terkena air hujan yang jatuh dari genteng. Dengan demikian, tempat yang dimaksud untuk melakukan nyawer adalah di halaman rumah, dan benda-benda sawerannya adalah cipratan air.

Tradisi ini melibatkan pemberian benda yang ditebarkan oleh mempelai kepada tamu undangan. Kunyit, beras putih, berbagai bunga, sirih, permen, uang logam/kertas, dan beras kuning yang sudah direndam dalam air kunyit adalah bahan-bahan istimewa yang biasanya dibagikan selama acara nyawer.

Ketika pasangan pengantin duduk berdampingan sambil menunggu tamu, anak-anak, bahkan orang dewasa, langsung berkumpul di belakang atau depan pasangan pengantin untuk mengikuti dan memungut uang logam dan kertas, yang disawerkan oleh kedua orang tua dan sanak saudara mempelai dan dipandu oleh juru sawer.

Meskipun zaman terus berubah, tradisi sawer panganten tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam pernikahan adat Sunda. Nilai-nilai tradisional ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Sunda, bahkan sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangan yang ingin mengadakan pernikahan dengan nuansa tradisional.

Seperti halnya acara sawer panganten yang dilaksanakan di kediaman Bapak Dudung Permana dan Ibu Ibu Hamidah Desa Talang  Bersemi (SPD), Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, dalam acara resepsi pernikahan putri sulungnya Maida Dwi Permani yang bersanding dengan Mukroni Putra dari Bapak Maskara dan Ibu Juniah.

Kegiatan sawer panganten tersebut berlangsung pada Jumat, 24 Januari 2025 sekitar pukul 14.00 wib setelah rangkaian acara akad nikah dan temu manten.

Terpantau dilokasi pesta keseruan pada saat sawer pengantin dilaksanakan, mereka yang hadir baik anak-anak, tua, muda berkumpul mengelilingi sang mempelai untuk berebut terutama memungut uang yang ditaburkan.

Acara sawer panganten tersebut dipimpin oleh salah satu tokoh seni didaerah kecamatan Rengat Barat yaitu Abah Surya. Beliau memberikan wejangan khususnya untuk kedua mempelai dengan bahasa Sunda yang dilantunkan seperti memakai lirik lagu atau pantun.

Keseruan sawer penganten tersebut ikut disaksikan juga oleh para tamu undangan yang hadir, termasuk disaksikan oleh Kadus 2 Joko Riadi. Menurut Kadus kegiatan sawer Panganten di lingkungannya ini baru pertama kali dilaksanakan.

Kata Kadus, sawer sangat menarik dan seru, terutama para hadirin yang berebut uang yang disawerkan," Sangat seru dan baik sekali," ujarnya.

Semoga kegiatan budaya seperti ini bisa dilestarikan, bukan hanya dari adat suku Sunda, tapi dari adat suku lainnya juga bisa melestarikan dengan adat dan budaya masing-masing, karena di Desa Talang Bersemi ini, beragam suku dan budaya juga, tuturnya (sur)

 

Terkini